Sabtu, 08 Mei 2010
Doa Seorang Pendosa
Setiap orang tidak bisa memastikan apakah dirinya kelak akan masuk surga atau neraka. Paling tidak kita hanya bisa berdoa, agar segala amalan baik kita diterima Allah SWT. dan amalan buruk kita diampunkan-Nya.
Boleh jadi, dalam sikap dan tindak tanduknya ia termasuk orang yang berdosa. Tetapi siapa yang tahu dibalik hatinya. Hanya Allah sajalah yang tahu, karena Dialah Maha Mengetahui apa yang ada di hati masing-masing hamba-Nya. Ada sebuah kisah menarik mudah-mudahan dapat menjadi pembelajaran buat kita semua berikut ini:
Cerita ini dikutip dari buku Oase Spritual 1: Hikmah dalam Ujaran dan Kisah ditulis M Syaiful Bakhri dan M. Irham zuhdi, yang mereka sadur dari kitab klasik Al-Mawa'izh al-Ushfuriyah karya Syaikh Muhammad bin Abu Bakar al-Ushfuri.
Kisahnya demikian: Pada zaman Nabi Musa as, ada seorang laki-laki yang sangat terkenal akan kefasikannya semasa hidup. Tatkala laki-laki itu meninggal dunia, orang -orang di sekitarnya tidak sudi untuk memandikan dan menguburkannya dengan layak. Mereka hanya menyeret mayat laki-laki itu dan membuangnya ke suatu tempat yang penuh dengan kotoran ternak, lalu Allah menurunkan wahyu kepada Musa, agar ia berangkat ke tempat lelaki tersebut dan memandikan, menguburkan dan menshalatkannya dengan layak. karena lelaki itu adalah seorang wali-Nya. Maka berangkatlah Musa ke tempat jenazah lelaki tersebut. Sesampai di kampung yang dituju, Musa meminta keterangan kepada penduduk mengenai kehidupan lelaki itu. Tetapi jawaban yang diterima Musa hampir senada, bahwa lelaki itu semasa hidupnya mempunyai sifat dan perangai yang jelek.
Lalu, Musa meminta mereka untuk bersedia memberitahu di mana jenazah lelaki tersebut mereka tempatkan, karena Allah memerintahkannya untuk mencarinya. Permintaan Musa dikabulkan, maka beberapa orang menunjukkan tempat di mana lelaki itu diletakkan. Ketika telah sampai, Nabi Musa mendapati mayat lelaki itu berada di tempat tumpukan kotoran hewan. Kembali para penduduk mengingatkan Musa bahwa lelaki itu adalah orang yang fasik selama hidupnya.
Mendengar tuturan para penduduk desa tersebut, Musa mengadu kepada Allah, katanya, "Ya Allah..Engkau telah memerintahkan aku untuk memandikan, menshalatkan dan menguburkan lelaki ini, sedangkan kaumnya telah bersaksi bahwa laki-laki ini semasa hidupnya adalah orang yang bertingkah laku jelek. Untuk itu, Engkaulah yang lebih mengetahui apakah orang yang meninggal ini baik atau buruk?"
Pengaduan Musa dijawab Allah dengan menurunkan wahyu-Nya, "Wahai Musa, orang-orang itu benar dengan apa yang telah diperbuat laki-laki itu. Tetapi mereka tidak tahu bahwa sesungguhnya lelaki itu telah meminta pertolongan (syafaat)-Ku saat menjelang ajalnya dengan tiga doa. Seandainya seluruh manusia yang penuh dengan dosa mau meminta-Ku dengan tiga doa tersebut, tentulah akan Aku penuhi. Oleh karena itu, bagaimana Aku tidak sayang padanya sedangkan dirinya benar-benar meminta-Ku? Dan bukankah Aku adalah zat yang lebih berhak memberi kasih sayang?"
Nabi Musa bertanya, "Wahai Allah, apa saja ketiga doa itu?" Allah menjawab dengan wahyu-Nya, doa pertama, ketika ajal lelaki itu sudah dekat ia berdoa,
Doa Pertama : "Ya Allah! Sesungguhnya aku telah berbuat maksiat, namun hatiku amat membenci perbuatan maksiat itu. Akan tetapi, ada tiga perkara yang selalu bersama-samaku hingga aku melakukan perbuatan maksiat itu di dalam hati. Pertama, adalah hawa nafsu, kedua adalah teman yang jelek dan ketiga adalah Iblis. Ketiga perkara inilah yang menjatuhkanku ke dalam lembah kemaksiatan. Sesungguhnya Engkau Maha Tahu terhadap sesuatu yang aku ucapkan, maka ampunilah aku."
"Doa kedua; "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku mengerjakan maksiat, adapun tempatku adalah bersama orang-orang fasik, akan tetapi aku lebih suka berkawan dengan orang-orang zuhud. hidup bersama mereka adalah lebih aku senangi daripada bersama-sama orang fasik."
"Doa ketiga: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui aku lebih mencintai orang-orang baik daripada orang-orang fasik sehingga apabila ada dua orang menghadapku yakni orang baik dan fasik, maka pastilah aku mendahulukan kepentingan orang yang baik daripada yang fasik."
Mendengar wahyu ini Musa akhirnya memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Dan ini menjadi 'itibar bagi dirinya dan kaumnya untuk selalu mengharapkan rahmat dari Allah SWT.
Rasulullah pernah berkata, "Seorang yang tenggelam dalam kemaksiatan tetapi tetap mengharapkan belas kasih Allah, lebih dekat kepada-Nya daripada seorang ahli ibadah yang membuat manusia lain putus harapan dari belas kasih Allah."
Kisah ini menyadarkan kita, bahwa sesungguhnya kesucian seseorang bukan karena rajinnya ia beribadah, bukan karena kedudukannya di masyarakat, bukan karena ilmu agamanya yang tinggi. Boleh jadi, mereka itu 'suci' di mata manusia, tetapi belum 'suci' di mata Allah. Karena Allah Maha Mengetahui apa yang ada dibalik perbuatannya tersebut.
Saya teringat dengan perkataan Rabiatul Adawiyah ketika bermunajat kepada Allah, "Ya Allah, jika aku beribadah mengharapkan surga-Mu, maka campakkan aku ke dalam neraka-Mu. Tetapi jika aku beribadah ingin bertemu dengan zat-Mu, maka jangan tutupi pandanganku untuk bertemu dengan-Mu."
Marilah kita berdoa agar amal ibadah kita yang selama ini kita lakukan diterima Allah SWT. dan dosa yang selama ini kita perbuat dihapus oleh Allah SWT. Amin yaa robbal ‘alamiin.
Sabtu, 01 Mei 2010
Indahnya Doa
“Doa adalah pangkal (otak)-nya ibadah”. Begitu kata Rasulullah dalam hadits riwayat Tirmidzi. Setiap manusia pasti memiliki harapan, memiliki keinginan. Karena itu pula, doa tidak bisa terpisah dari manusia. Ada ulama menasehatkan untuk belajar beribadah dari doa, maka insyaAllah akan mudah. Doa pun merupakan senjatanya orang beriman. Maka pentingnya mencari sebab-sebab mustajabnya doa, baik dari tata cara-nya, waktunya, dan lain-lain. Rasulullah juga bersabda: “Mintalah kepada Allah akan kemurahan-Nya, karena sesungguhnya Allah senang apabila dimintai (sesuatu).” (HR Tirmidzi dari Ibnu Mas’ud). Maha Suci Allah.
Ibnul Qayyim rahimahullahu ta’ala mengatakan, orang yang berdoa persis seperti orang yang memanah. Pertama, harus ada sasaran. Lalu yang kedua, harus ada busur/panah yang kokoh, lurus. Yang ketiga, harus ada tenaga atau kekuatan untuk menarik busur panah sehingga panahnya meluncur tepat pada sasarannya. Tiga syarat ini harus dimiliki seseorang yang ingin doanya di mustajabkan oleh Allah Ta’ala.
Syarat yg pertama, harus ada sasaran. Maka, sasarannya adalah Allah. Hendaklah ia berdoa hanya kepada Allah Ta’ala, dan tidak berdoa kepada selain-Nya. Sebab, berdoa kepada selainnya adalah kelemahan dan kehinaan. Lalu yg kedua, busur/panah yang lurus yaitu doa yang datang dari Rasulullah yg ada dalam Al-Qur’an dan Sunnahnya. Sebab, kadang ada yang berdoa minta sesuatu, tapi kita tidak mengetahui apakah sesuatu itu baik buat dunia dan akherat kita. Dan yang ketiga, kekuatan untuk menarik busur itu adalah dorongan kepentingan. Karena doa yang diterima oleh Allah Ta’ala adalah doanya orang yang benar-benar butuh, benar-benar menginginkan dan terdesak dengan terwujudnya keinginan tersebut. Maka kata Ibnul Qayyim, “tidaklah tercipta ketiga syarat ini, kecuali Allah Ta’ala akan kabulkan doanya”.
Lalu bagaimana kalau tidak tampak pengaruh dari pengabulan doa tersebut? Allah Ta’ala memberikan keutamaan bagi orang yang berdoa. Kalau Allah tidak kabulkan doanya, maka Allah akan jauhkan musibah yang setimpal dengan doa tersebut. Kadang kita tidak menyadari hal ini, padahal dijauhkannya musibah dari kita juga merupakan sebuah nikmat yang sangat besar, sangat mahal yang perlu kita sadari dan syukuri. “Tidak ada seorang muslim pun yang berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa dan memutus hubungan silaturrahim, kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu diantara tiga hal : dikabulkan doanya ; ditangguhkan hingga hari kiamat ; atau dijauhkan dari suatu keburukan/musibah yang serupa.” (HR. Ahmad dari Abi Said Al Khudri).
Dan, sungguh indah kalau kita mencermati doa-doa yang diajarkan Rasulullah. Betapa indah doa-doa itu. Betapa tepatnya isi permohonan dalam doa-doa itu. Maksud tepat disini, yaitu isinya baik bagi urusan dunia maupun urusan akherat. Kalau mencermatinya, akan terucap “ya, aku ingin memohon itu. Aku ingin memohon seperti itu”, yang tidak terpikirkan oleh kita sebelumnya. Subhanallah.
Doa adalah senjatanya orang mukmin. Ya, sudah sejatinya kita berdoa mengikuti panutan kita. Dibawah ini beberapa doa yang indah yang diajarkan oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Ya Allah, dengan ilmu ghaib-Mu dan kekuasaan-Mu atas semua makhluk, hidupkanlah aku selama Engkau mengetahui kehidupan itu lebih baik bagiku dan matikanlah aku jika Engkau ketahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perasaan takut kepada-Mu baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan. Dan aku memohon kepada-Mu perkataan yang benar, baik dalam keadaan senang maupun dalam keadaan marah. Aku memohon kepada-Mu kesederhanaan, baik dalam keadaan fakir maupun kaya. Aku memohon kepada-Mu nikmat yang tak pernah habis. Dan aku memohon kepada-Mu penyejuk hati yang tidak pernah putus. Aku memohon kepada-Mu kerelaan (menerima segala hal) setelah ditetapkan. Aku memohon kepada-Mu ketenteraman hidup setelah kematian. Dan aku memohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu, juga kerinduan untuk bertemu dengan-Mu, bukan dalam kesusahan yang membinasakan dan cobaan yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diberi petunjuk dan memberi petunjuk”. (HR. An-Nasai, Ahmad, dan al-Hakim, sanadnya jayid. Doa ini bisa dibaca setelah tasyahud sebelum salam).
“Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah Engkau rizkikan kepadaku, dan berikanlah berkah kepadaku di dalamnya dan gantikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.” (HR. Al-Hakim dan dishahihkannya serta disepakati oleh adz-Dzahabi, dari Ibnu Abbas ra.)
“Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, serta beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud, an-Nasai, Ahmad,dan al-Hakim).
“ Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (HR.Ibnu Majah)
“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu, sedang kami mengetahuinya dan kami memohon ampunan kepada-Mu atas apa yang kami tidak mengetahuinya.” (HR.Ahmad)
Dan betapa indahnya doa sholat istikharah, pun doa-doa lain tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Subhanallah. Kita bisa mendapatkan doa-doa ini dari buku-buku kumpulan doa-doa dari AlQur’an dan Hadits, juga bisa mendalaminya dalam kitab Fiqh Do’a. Semoga doa-doa kita adalah doa-doa yang dikabulkan oleh Allah Ta’ala, sebab Rasulullah pun berlindung kepada Allah dari doa yang tidak dikabulkan sebagaimana doanya:
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadamu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kekikiran, pikun dan adzab kubur. Ya Allah, berikanlah ketakwaan pada diriku dan sucikanlah diriku, karena Engkau-lah sebaik-baik Rabb yang mensucikannya, Engkau Pelindung dan Pemeliharanya. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan.”
Amin yaa robbal ‘alamin.
Rabu, 28 April 2010
Dahsyatnya Bahaya Syirik
Setiap muslim pasti mengetahui bahwa syirik hukumnya adalah haram. Namun, apakah kita telah mengetahui hakikat syirik serta seberapa besar tingkat keharaman dan bahayanya? Boleh jadi ada yang berkata, “Syirik itu haram, harus ditinggalkan!”, namun dalam kesehariannya justru bergelimang dalam amalan kesyirikan sedangkan ia tidak menyadarinya. Oleh karena itu ada baiknya kita kupas permasalahan ini agar tidak terjadi kerancuan di dalamnya.
Makna Syirik
Allah memberitakan bahwa tujuan penciptaan kita tidak lain adalah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Allah, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56). Ibadah adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah baik berupa perkataan atau perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Ibadah disini meliputi do’a, sholat, nadzar, kurban, rasa takut, istighatsah (minta pertolongan) dan sebagainya. Ibadah ini harus ditujukan hanya kepada Allah tidak kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Hanya kepadaMu lah kami beribadah dan hanya kepadaMu lah kami minta pertolongan.” (Al Fatihah: 5)
Barangsiapa yang menujukan salah satu ibadah tersebut kepada selain Allah maka inilah kesyirikan dan pelakunya disebut musyrik. Misalnya seorang berdo’a kepada orang yang sudah mati, berkurban (menyembelih hewan) untuk jin, takut memakai baju berwarna hijau tatkala pergi ke pantai selatan dengan keyakinan ia pasti akan ditelan ombak akibat kemarahan Nyi Roro Kidul dan sebagainya. Ini semua termasuk kesyirikan dan ia telah menjadikan orang yang sudah mati dan jin itu sebagai sekutu bagi Allah SWT.
Kedudukan Syirik
Syirik merupakan dosa besar yang paling besar. Abdullah bin Mas’ud rodhiyallohu ta’ala ‘anhu berkata: Aku pernah bertanya kepada Rosulullah , “Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Engkau menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Maka sudah selayaknya bagi kita untuk berhati-hati jangan sampai ibadah kita tercampuri dengan kesyirikan sedikit pun, dengan jalan mempelajari ilmu agama yang benar agar kita mengetahui mana yang termasuk syirik dan mana yang bukan syirik. Hendaklah kita merasa takut terjerumus ke dalam kesyirikan, karena samarnya permasalahan ini sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Wahai umat manusia, takutlah kalian terhadap kesyirikan, karena syirik itu lebih samar dari (jejak) langkah semut.” (HR. Ahmad)
Syirik Menggugurkan Seluruh Amal
Orang yang dalam hidupnya banyak melakukan amal sholeh seperti sholat, puasa, shodaqoh dan lainnya, namun apabila dalam hidupnya ia berbuat syirik akbar dan belum bertaubat sebelum matinya, maka seluruh amalnya akan terhapus. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan jika seandainya mereka menyekutukan Allah, maka sungguh akan hapuslah amal yang telah mereka kerjakan.” (Al- An’am: 88)
Begitu besarnya urusan ini, hingga Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (Az Zumar: 65). Para Nabi saja yang begitu banyak amalan mereka diperingatkan oleh Allah terhadap bahaya syirik, yang apabila menimpa pada diri mereka maka akan menghapuskan seluruh amalnya, lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita merasa aman dari bahaya kesyirikan?
Oleh karena itu beruntunglah orang-orang yang menyibukkan diri dalam mempelajari masalah tauhid (lawan dari syirik) dan syirik agar bisa terhindar sejauh-jauhnya, serta merugilah orang-orang yang menyibukkan dirinya dalam masalah-masalah yang lain atau bahkan menghalang-halangi dakwah tauhid!!
Pelaku Syirik Akbar Kekal di Neraka dan Dosanya Tidak Akan Diampuni Oleh Allah Ta’ala
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang Dia kehendaki.” (An-Nisa’: 48). Juga firman-Nya yang artinya, “Barangsiapa yang mensekutukan Allah, pasti Allah haramkan atasnya untuk masuk surga. Dan tempatnya adalah di neraka. Dan tidak ada bagi orang yang dhalim ini seorang penolongpun.” (Al-Ma’idah: 72).
Orang Musyrik Haram Dinikahi
Hal ini berdasarkan firman Allah yang artinya, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Baqarah: 221)
Sembelihan Orang-Orang Musyrik Haram Dimakan
Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (Al-An’am: 121)
Begitu besarnya bahaya syirik, maka sudah selayaknya bagi setiap orang untuk takut terjerumus dalam dosa ini yang akan menyebabkan ia merugi di dunia dan di akhirat. Bagaimana mungkin kita tidak takut padahal Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam saja takut terhadap masalah ini? Sampai-sampai beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam berdoa supaya dijauhkan dari perbuatan syirik. Beliau mengajarkan sebuah do’a yang artinya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari mempersekutukan-Mu padahal aku mengetahui bahwa itu syirik. Dan ampunilah aku terhadap dosa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)
Semoga Allah Ta’ala menjaga kita semua dari kesyirikan. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita shollallohu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Jumat, 23 April 2010
Hukum Pacaran Dalam Pandangan Islam
Pacaran dalam Pandangan Islam
Gharizatul baqa' (naluri untuk mempertahankan diri) misalnya rasa takut, cinta harta, cinta pada kedudukan, pengen diakui, dll.
Gharizatut tadayyun (naluri untuk mensucikan sesuatu/ naluri beragama) yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan penyembahan/ beragama kepada sesuatu yang layak untuk disembah.
Gharizatun nau' (naluri untuk mengembangkan dan melestarikan jenisnya) manivestasinya bisa berupa rasa sayang kita kepada ibu, teman, saudara, kebutuhan untuk disayangi dan menyayangi kepada lawan jenis.
Adapun resep nabi yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud: "Wahai generasi muda, barang siapa di antara kalian telah mampu segeralah berkeinginan menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu dapat menundukkan pandangan mata dan memelihara kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian belum mampu, maka hendaklah berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi penghalang untuk melawan gejolak nafsu."(HR. Bukhari, Muslim, Ibnu Majjah, dan Tirmidzi).
Wallahu A'lam bish-Showab
Dikutip dari http://www.alislam.or.id/artikel/arsip/00000028.html
Jumat, 16 April 2010
Tauhid Yang Benar
Tauhid adalah syarat diterimanya amal shaleh
Amal shalih apapun, baik itu shalat, shaum,zakat, haji, infaq, birrul walidain (bakti pada orang tua) dan sebagainya tidak mungkin diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan tidak ada pahalanya bila tidak disertai tauhid yang bersih dari syirik. Berapa banyaknya amal kebaikan yang dilakukan seseorang tetap tidak mungkin ada artinya bila pelakunya tidak kufur kepada thaghut, sedangkan seseorang tidak dikatakan beriman kepada Allah apabila dia tidak kufur kepada thaghut. Anda telah mengetahui makna kufur kepada thaghut beserta thaghut-thaghut yang mesti kita kafir kepadanya. Kufur kepada thaghut serta iman kepada Allah adalah dua hal yang dengannya orang bisa dikatakan mukmin dan dengannya amalan bisa diterima, Allah ta’ala berfirman : “Siapa yang melakukan amal shalih baik laki-laki atau perempuan sedang dia itu mukmin, maka Kami akan berikan kepadanya penghidupan yang baik serta Kami akan memberikan kepadanya balasan dengan balasan yang lebih baik dari apa yang telah mereka amalkan” (An Nahl : 97)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan pahala amal shalih hanya bagi orang mukmin, sedang orang yang suka membuat tumbal, sesajen, meminta kepada orang yang sudah mati atau mengusung demokrasi atau nasionalisme dan falsafah system syirik lainnya dia bukanlah orang mukmin, tetapi dia musyrik, karena tidak kufur kepada thaghut, sehingga shalat, shaum, zakat dan ibadah lainnya yang dia lakukan tidaklah sah dan tidak ada pahalanya.
Juga Allah ta’ala berfirman : “Siapa yang melakukan amal shalih, baik laki-laki atau perempuan sedangkan dia mukmin, maka mereka masuk surga seraya mereka diberi rizqi didalamnya tanpa perhitungan” (Ghafir/Al Mukmin : 60)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan pahala masuk surga bagi orang yang beramal shalih dengan syarat bahwa dia mukmin, sedangkan para pendukung Pancasila, Demokrasi, dan Undang Undang Dasar buatan tidaklah dikatakan mukmin, karena tidak kufur kepada thaghut, tapi justru dia adalah hamba thaghut.
Juga dalam firmanNya ta’ala : “Dan siapa yang melakukan amalan-amalan shalih baik laki-laki atau perempuan, sedang dia itu mukmin, maka mereka masuk surga dan mereka tidak dizalimi barang sedikitpun” (An Nisa : 124)
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala menetapkan pahala surga bagi orang yang beramal shalih, dengan syarat dia mukmin, sedangkan aparat thaghut, Demokrasi, Pancasila, Undang Undang Dasar buatan dan Pemerintah kafir mereka itu bukan mukmin, karena tidak kafir terhadap thaghut, bahkan mereka menjadi pelindung dan benteng thaghut.
Juga firmanNya ta’ala : “Dan siapa yang melakukan amal-amal shalih sedang dia itu mukmin, maka dia tidak takut didzalimi dan tidak pula takut akan dikurangi” (Thaha : 112) ini berbeda dengan orang musyrik dan kafir, dia tidak dapat apapun dari amal shalih yang dia kerjakan.
Juga firmanNya ta’ala : “Dan siapa yang melakukan amal shalih, sedang dia itu mukmin maka tidak ada pengingkaran terhadap amalannya dan sesungguhnya Kami tuliskan bagi dia apa yang dia lakukan” (Al Anbiya : 94)
Sedangkan para penguasa system syirik dan para pejabatnya serta para anggota parlemennya bukanlah orang mukmin tetapi mereka adalah Thaghut.
Semua ayat mengisyaratkan iman untuk diterimanya amal shalih, sedangkan para penyembah kuburan atau batu atau pohon keramat atau pengusung demokrasi atau hukum buatan manusia atau falsafah syirik (seperti Pancasila, dan Undang Undang Dasar buatan) atau aparat keamanan penguasa thaghut bukanlah orang yang kafir terhadap thaghut.
Jadi, kemanakah amalan-amalan yang mereka lakukan? Maka jawabannya ; hilang, sirna lagi sia-sia, sebagaimana firmanNya Subhanahu Wa Ta’ala: “Sungguh, bila kamu berbuat syirik, maka hapuslah amalanmu, dan sunguh kamu tergolong orang-orang yang rugi” (Az Zumar : 65)
Amalan-amalan yang banyak itu hilang sia-sia dengan satu kali saja berbuat syirik, maka apa gerangan apabila orang tersebut terus-menerus berjalan diatas kemusyrikan, padahal ayat ini ancaman kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang tidak mungkin berbuat syirik. Dan begitu juga para nabi semuanya diancam dengan ancaman yang sama. Allah ta’ala berfirman : “Dan bila mereka berbuat syirik, maka lenyaplah dari mereka apa yang pernah mereka amalkan” (Al An’am :88 ) Ya, lenyap bagaikan debu yang disapu angin topan, sebagaimana firmanNya ta’ala : “Amalan-amalan mereka (orang-orang musyrik/kafir) adalah bagaikan debu yang diterpa oleh angin kencang di hari yang penuh badai” (Ibrahim :18 ) Dalam ayat ini Allah serupakan amalan orang-orang kafir dengan debu, dan kekafiran/kemusyrikan mereka diserupakan dengan angina topan. Apa jadinya bila debu diterpa angin topan… ? tentu lenyaplah debu itu.
Allah juga mengibaratkan amalan orang kafir itu dengan fatamorgana : “Dan orang-orang kafir amalan mereka itu bagaikan fatamorgana ditanah lapang, yang dikira air oleh orang yang dahaga, sehingga tatkala dia mendatanginya ternyata dia tidak mendapatkan apa-apa, justeru dia mendapatkan Allah disana kemudian Dia menyempurnakan penghisabanNya” (An Nur : 39)
Orang yang musyik disaat dia melakukan shalat, zakat, shaum, dan sebagainya, mengira bahwa pahalanya banyak disisi Allah, tapi ternyata saat dibangkitkan dia tidak mendapatkan apa-apa melainkan adzab!
Dalam ayat lain amalan-amalan mereka itu bagaikan debu yang bertaburan : “Dan Kami hadapkan apa yang telah mereka kerjakan berupa amalan, kemudian Kami jadikannya debu yang bertaburan” (al Furqan : 23)
Sungguh… sangatlah dia merugi sebagaimana dalam ayat lain : “Katakanlah, “Apakah kalian mau kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling rugi amalannya, yaitu orang-orang yang sia-sia amalannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka melakukan perbuatan baik?” (Al Kahfi : 102-104)
Ya, memang mereka rugi karena mereka lelah, capek, letih, berusaha keras, serta berjuang untuk amal kebaikan, tapi ternyata tidak mendapat apa-apa karena tidak bertauhid. Allah ta’ala berfirman : “Dia beramal lagi lelah, dia masuk neraka yang sangat panas” (Al Ghasyyiah : 3-4).
Ini (tauhid) adalah syarat paling mendasar yang jarang diperhatikan oleh banyak orang. Masih ada dua syarat lagi yang berkaitan dengan satuan amalan, yaitu ikhlas dan mutaba’ah. Dan berikut ini adalah penjelasan ringkasnya :
Pertama: Ikhlas. Orang yan melakukan amal shaleh akan tetapi tidak ikhlas ,justru dia ingin dilihat orang atau ingin didengar orang, maka amalan-amalan itu tidak diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagaimana firmanNya : “Siapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah dia beramal shalih dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam ibadah kepada Tuhannya” (Al Kahfi : 110)
Ayat ini berkenaan dengan ikhlas, orang yang saat melakukan amal shalih dan dia bertujuan yang lain bersama Allah maka ia itu tidak ikhlas.
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits qudsiy : “Bahwa Allah berfirman : ‘Aku adalah yang paling tidak butuh akan sekutu, siapa yang melakukan amalan dimana dia menyekutukan yang lain bersamaKu dalam amalan itu, maka Aku tinggalkan dia dengan penyekutuannya” (HR. Muslim)
Kedua: Mutaba’ah (sesuai dengan tuntunan Rasul). Amal ibadah meskipun dilakukan dengan ikhlas akan tetapi tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka pasti ditolak. Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Siapa yang melakukan amalan yang tidak ada dasarnya dari kami , maka itu tertolak” (HR. Muslim)
Beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda : “Jauhilah hal-hal yang diada-adakan karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat” (HR. At Tirmidzi)
Sedikit amal tapi diatas Sunnah adalah lebih baik daripada banyak amal dalam bid’ah. Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu berkata : “Ikutilah (tuntunan Rasulullah) dan jangan mengada-ada yang baru”
Jadi, dalam urusan ibadah, antum harus bertanya pada diri sendiri : “Apa landasan atau dalil yang kamu jadikan dasar? Karena siapa kamu beramal ?” Apabila tidak mengetahui dasarnya maka tinggalkanlah amalan itu karena hal itu lebih selamat bagi kita.